Muslim Harus tahu : "Bagaimana Kita Memilih Pemimpin Negeri Ini ?" >> Kenapa Umat Islam Harus Memilih Prabowo ?

Pada saat ini jumlah pilihan yang mengemuka dihadapan para pemilih presiden untuk memimpin negeri ini semakin jelas dan mengerucut kepada dua pasangan yang keduanya memiliki kekuatan popularitas dan elektabilitas yang cukup berimbang.

Banyak orang awam yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan mana yang paling menguntungkan bagi kebaikan dan kesejahteraan negeri ini.

Lebih menyulitkan lagi disaat setiap pasangan dibela dan dikampanyekan oleh orang-orang yang hanya mau menampilkan dan membesarkan sisi positif dari setiap pasangan yang mereka usung, serta selalu menyembunyikan dan mengecilkan sisi negatif pada orang yang mereka bela.


Dalam kondisi demikian selayaknya kita memiliki sikap yang arif dan bijaksana, agar kita mau membuka dan membedah secara ilmiah kedua pasangan tersebut untuk melihat sisi positif dan negatif yang sebenarnya ada pada mereka.

Agar sisi positif mereka bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan, sedangkan sisi negatif mereka bisa dijadikan alat ukur, jika tidak berbahaya maka kita eliminir, jika bisa diperbaiki maka diupayakan perbaikannya dan jika berbahaya laten maka pilihan ini tidak layak dipertimbangkan, bahkan mesti kita buang.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pada saat ini kita menghadapi dua pasangan yang bukan orang-orang “sholihin” yang bisa diperbandingkan mana yang paling sholih diantara mereka, akibatnya yang bisa jadi tolok ukur bagi kita pada saat ini adalah mana yang paling besar manfaat dan maslahatnya bagi muslimin, serta mana yang paling kecil keburukannya terhadap muslimin.

Kalau dilihat dari sisi “partai” yang mengusung mereka, maka kita mendapati kenyataan dari pengalaman di masa yang lalu bagaimana kuatnya sikap PDIP dalam menghadang undang-undang yang pro Islam seperti undang-undang perbankan syariah, ekonomi syariah, anti pornografi, miras dan jaminan produk halal.



Jika diantara kita ada yang berkata: “itukan partainya, bukan Jokowinya!”, kita kembali berfikir: “bukankah Jokowi itu petugas partai yang harus tunduk-patuh kepada kepentingan partainya?.”

Dalam waktu yang sama kita mendapati Prabowo diusung oleh Gerindra dan partai-partai lain yang terkesan moderat dan mengedepankan kepentingan negeri ini dihadapan kepentingan partai, mereka mau duduk bermusyawarah dalam mempertimbangkan kepentingan-kepentingan berbagai pihak dan tidak merasa segan dalam menggunakan atribut-atribut Islam dalam acara mereka, menyebutkan kata jihad secara berulang-ulang dan menjeritkan takbir dengan penuh semangat, padahal gaya seperti ini terasa tabu di masa yang lalu dan sangat jarang kita dengar hal yang seperti ini dari para politikus lainnya.

Kalau dilihat dari sisi “platform partai” kita melihat PDIP adalah partai nasionalis, sosialis, sekuler dan tidak punya kepedulian kepada kepentingan agama, apalagi Islam. Hal ini terbukti dari sikap-sikap buruk anggota dewan yang mewakili mereka pada saat membahas undang-undang yang pro Islam maka nampak sikap buruk mereka, diantaranya adalah mereka walkout ditengah pembahasan.

Sementara Gerindra memiliki manifesto yang menunjukkan keberpihakan yang jelas kepada agama-agama yang sah di negeri ini dan siap untuk menjaga kemurniannya, (hal ini termaktub pada poin 11 dari manifesto Gerindra).

Kalau dilihat dari “harapan kita kedepan dalam menghadapi aliran Sesat terutama Syiah”, kita mendapati PDIP justru melindungi para dedengkot Syiah sekelas Jalaludin Rahmat bahkan menjadikannya “Legislator” mewakili mereka.

Lebih dari itu Yusuf Kalla telah menyatakan akan bekerjasama dengan Iran dalam mengelola masjid-masjid di Indonesia, ini kehancuran untuk ajaran Islam di Indonesia. Lebih mengenaskan lagi seorang ketua Dewan Masjid Indonesia ini ternyata tidak mengerti dan tidak menyadari akan bahaya Syiah terhadap NKRI, padahal telah terungkap dari catatan-catatan pengalaman masa lalu yang orang awam pun tahu, terutama untuk seorang Daeng yang sarat akan pengalaman dan pengetahuan serta akrab dengan para Ulama.

Sementara Gerindra dikelilingi dengan empat partai Islam yang diharapkan bisa mengajaknya untuk menghormati, melindungi dan memperjuangkan kepentingan Islam dan Muslimin.

Pada akhirnya dengan memandang kepada kepentingan Islam dan Muslimin pilihan yang lebih layak jatuh kepada Prabowo karena besarnya manfaat yang diharapkan dan kecilnya akibat buruk yang ditakutkan. (bms)



Sumber :
http://gemaislam.com/rubrik/aktualita/2419-bagaimana-kita-memilih-pemimpin-negeri-ini

Baca
http://www.solusiislam.com/2014/03/hukum-memilih-calon-pemimpin-non-muslim.html
http://ummatanwasatan.net/2013/04/pemimpin-berwibawa/
http://www.pusatalquran.com/2014/04/tuntunan-quran-dalam-memilih-pemimpin.html
http://pa-nurulislam.blogspot.com/2012/09/inilah-dalil-dalil-mengharamkan-umat.html


The President Center : Capres yang Andalkan Pencitraan, Menyesatkan Bangsa

Jakarta  – Direktur Eksekutif The Presiden Center Didied Mahaswara mengimbau agar figur tokoh yang tampil sebagai calon presiden pada pemilu presiden 2014 mengutamakan kompetensi dan bukan pencitraan.

“Presiden sebagai pemimpin nasional bangsa Indonesia seharusnya memiliki kompetensi dan visi kebangsaan,” kata Didied Maheswara kepada pers, di Jakarta, Rabu(8/1/2014)

Menurut Didied, figur calon presiden yang tampil dengan mengandalkan pencitraan untuk meningkatkan popularitasnya, dikhawatirkan dapat menyesatkan bangsa.

Karena, kata dia, dengan pencitraan yang populer adalah figurnya tapi masyarakat tidak mengetahui kompetensinya.

“Sungguh menyedihkan, jika figur calon presiden itu populer tapi ternyata tidak memiliki kelayakan kompetensi,” kata aktivis lembaga swadaya masyarakat yang mencermati aktivitas para calon presiden ini.
Peserta konvensi rakyat

Ia menambahkan, figur calon presiden yang selalu tampil di media massa dan menjadi populer, harus dicermati lebih lanjut kompetensinya, baik pengalaman, prestasi, rekam jajak, maupun integritas dan komitmennya untuk membangun bangsa.

Jangan sampai, kata dia, figur capres yang populer karena sering tampil di media massa, setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata tidak kompeten.

Pada kesempatan tersebut, Didied merujuk pada Konvensi Rakyat yang digagas oleh gus Sholah (Solahudin Wahid) merupakan bentuk konvensi yang menyeleksi visi, misi, dan indikator lainnya terhadap tokoh-tokoh, untuk menilai layak atau tidak menjadi calon presiden.

Menurut Didied, sudah saatnya tokoh-tokoh dalam bursa calon presiden menyampaikan visi, misi, dan program yang konkret kepada masyarakat.(dm).

Sumber :
http://www.kompasislam.com/2014/01/09/the-president-center-capres-yang-andalkan-pencitraan-menyesatkan-bangsa/

Baca juga :
Skenario Pencitraan Jokowi


Pengamat: Survei Capres Jangan Jadi Pegangan Mutlak

Yogyakarta (Antara) - Berbagai paparan dari lembaga survei tentang elektabilitas calon presiden sebaiknya jangan menjadi pegangan mutlak untuk menentukan pilihan, kata pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito.

"Survei elektabilitas atau popularitas sebetulnya belum menyentuh substansi, bahkan dapat digunakan mengecoh objektivitas masing-masing capres," kata Arie di Yogyakarta, Jumat.

Menurut pengajar Sosiologi Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM ini, dalam memilih, sebaiknya masyarakat dapat mengacu pada rekam jejak serta program riil yang telah dan akan diangkat masing-masing capres.

"Sekarang baru ada figur menonjol kaget, tanpa mempertanyakan lebih dulu `track record` serta latar belakang program strategis yang diusung. Ini menandakan politik hanya berdasarkan orang," katanya.

Lebih lanjut, menurut Arie, bakal capres perlu dipertemukan dalam forum debat dengan membahas persoalan substansial yang sedang dihadapi bangsa. Dengan demikian masyarakat juga dapat langsung melakukan penilaian.

"Misalnya membahas persoalan yang dihadapi Indonesia pasca 2014 baik dari aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik," katanya.

Sementara itu, ia menambahkan, kalangan media massa juga perlu berperan mensosialisasikan substansi dari masing-masing capres secara proporsional.

"Di televisi kan kebanyakan hanya terus menerus menonjolkan permukaan figur beberapa capres semata. Itu tidak mengedukasi calon pemilih," kata dia.

Menurut dia, figur bakal capres yang saat ini mulai gencar diiklankan melalui media belum tentu memiliki korelasi dengan kebutuhan bangsa saat ini.(rr)

Sumber :
http://id.berita.yahoo.com/pengamat-survei-capres-jangan-jadi-pegangan-mutlak-030247150.html


0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More